<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5927495290352872281</id><updated>2011-04-22T02:08:24.357+07:00</updated><title type='text'>POJOK ARIE</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://theindonesianowarie.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5927495290352872281/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://theindonesianowarie.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>The Indonesia Now</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12954051683754295843</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_qkjNMYedSxE/R2ZEgEyElnI/AAAAAAAAAHg/RHVpfOaj82Q/S220/Slide1.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>12</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5927495290352872281.post-4502037672017662555</id><published>2008-02-27T14:11:00.003+07:00</published><updated>2008-02-27T14:17:43.032+07:00</updated><title type='text'>UNDERGROUND BERKABUNG</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_qkjNMYedSxE/R8UN-OlATUI/AAAAAAAACKA/LdwsVOGB5BI/s1600-h/UNDERGROUND-1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5171555109821238594" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 134px; CURSOR: hand; HEIGHT: 99px" height="148" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_qkjNMYedSxE/R8UN-OlATUI/AAAAAAAACKA/LdwsVOGB5BI/s320/UNDERGROUND-1.jpg" width="176" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Di kota Bandung kini banyak dijumpai spanduk bertuliskan “underground berkabung”, menyusul pergelaran Band Beside di Asia Africa Cultural Centre (AACC) pada Sabtu malam 9 Februari 2008 yang berakhir mengenaskan, mengakibatkan 9 orang penonton tewas.&lt;br /&gt;Peristiwa ini bukan pertamakali terjadi, tapi karena Beside adalah band yang mengusung musik underground, irama musik yang memprovokasi tubuh bergoyang secara bebas, maka banyak dibicarakan.&lt;br /&gt;Kebetulan underground sebagai aliran musik yang “memberontak” terhadap musik pop, maka penampilan komunitas musik cadas ini sangat ekspresif, underground lambing kebebasan untuk berkesenian termasuk atribut yang melekat pada penampilan pemusik maupun penggemar nya.&lt;br /&gt;Kita semua menyesalkan dan berduka cita yang sangat dalam atas meninggalnya 9 orang penonton Band Beside, tapi sangat berlebihan jika kesalahan itu ditimpakan terhadap musik underground.&lt;br /&gt;Tidak hanya pertunjukan musik underground yang memicu kerusuhan, pertunjukan musik pop dan dangdut juga beberapakali memakan korban jiwa, bahkan kita masih ingat pergelaran penyanyi anak-anak pernah menyebabkan korban jiwa.&lt;br /&gt;Pertandingan sepak bola juga sumber potensial kerusuhan, juga perhelatan politik seringkali menyebabkan kekacauan sosial.&lt;br /&gt;Melarang pergelaran musik underground tentu bukan sikap yang bijak, apapun pertunjukan musiknya jika panitya penyelenggaranya siap dan memperhitungkan segala resiko yang akan muncul, pasti semua kesalahan akan dapat diantisipasi.&lt;br /&gt;Jika dirunut lebih dalam lagi mengapa pihak pemerintah kota memberikan izin pertunjukan musik underground di gedung AACC, yang nota bene tidak layak untuk konser musik underground karena kapasitas penontonnya terbatas.&lt;br /&gt;Korban telah jatuh dan semuanya anak-anak muda yang sebenarnya masa depannya masih panjang, yang kini perlu kita pikirkan bagaimana kedepannya.&lt;br /&gt;Komunitas anak-anak muda penggemar musik underground yang banyak ditemui di Ujung Berung Bandung Timur , perlu mendapatkan perhatian, jangan dimusuhi apalagi dimatikan kreativitasnya, yang penting bagaimana mereka tetap berada dijalur anti narkoba dan miras.&lt;br /&gt;Anak-anak muda itu sedang berproses membangun jati dirinya, para pejabat publik itu tentunya pernah mengalami masa muda, bahkan bisa jadi mereka dulu penggemar musik underground, jadi mestinya mereka lebih memahami gejolak jiwa anak-anak muda yang banyak ditemui di Ujung Berung itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5927495290352872281-4502037672017662555?l=theindonesianowarie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://theindonesianowarie.blogspot.com/feeds/4502037672017662555/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5927495290352872281&amp;postID=4502037672017662555' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5927495290352872281/posts/default/4502037672017662555'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5927495290352872281/posts/default/4502037672017662555'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://theindonesianowarie.blogspot.com/2008/02/underground-berkabung.html' title='UNDERGROUND BERKABUNG'/><author><name>The Indonesia Now</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12954051683754295843</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_qkjNMYedSxE/R2ZEgEyElnI/AAAAAAAAAHg/RHVpfOaj82Q/S220/Slide1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_qkjNMYedSxE/R8UN-OlATUI/AAAAAAAACKA/LdwsVOGB5BI/s72-c/UNDERGROUND-1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5927495290352872281.post-5184762732279262291</id><published>2008-02-27T14:01:00.003+07:00</published><updated>2008-02-27T14:06:04.070+07:00</updated><title type='text'>KETELADANAN NELSON MANDELA</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Di&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/span&gt;masa Pak Harto masih menjabat sebagai Presiden, Nelson Mandela termasuk sering berkunjung ke Jakarta, dan bertemu serta melakukan pembicaraan dengan penguasa orde baru itu.&lt;br /&gt;Mungkin karena tertarik dengan budaya Indonesia, Nelson Mandela sering mengenakan baju batik dalam beberapa peristiwa internasional, secara tidak langsung Mandela telah mempromosikan batik ke dunia.&lt;br /&gt;Pemimpin Afrika Selatan itu nampaknya hanya tertarik dengan batik saja, tapi sama sekali tidak tertarik dengan sistem politik Indonesia yang dibangun oleh orde baru. &lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_qkjNMYedSxE/R8ULlelATSI/AAAAAAAACJw/wMOL7kPxKXk/s1600-h/NALSON+MANDELA.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5171552485596220706" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 150px; CURSOR: hand; HEIGHT: 99px" height="120" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_qkjNMYedSxE/R8ULlelATSI/AAAAAAAACJw/wMOL7kPxKXk/s320/NALSON+MANDELA.jpg" width="176" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Terbukti ketika Mandela terpilih sebagai Presiden Afrika Selatan, ia hanya bersedia menjabat satu kali masa jabatan saja, dan untuk menjaga keutuhan bangsa ia meminta FW de Klerk mantan Presiden Afrika Selatan dimasa pemerintahan Apartheid, menjadi wakil presiden.&lt;br /&gt;Mandela dipenjarakan selama 27 tahun oleh rezim apartheid, tapi demi keutuhan bangsa, demi masa depan rakyat Afrika Selatan, ia tidak memelihara dendam, justru ia membangun rekonsiliasi yang sebenar-benarnya.&lt;br /&gt;Ketika akhirnya Mandela lengser, ia tetap dihormati oleh rakyat Afrika selatan sebagai Bapak Bangsa, bahkan dunia menaruh hormat kepada pejuang anti apartheid ini, ia memberikan inspirasi bagi mereka yang bercita-cita menjadi permimpin sejati.&lt;br /&gt;Sebagai sebuah negara, Afrika Selatan tidak mengalami goncangan ekonomi yang berarti, meskipun mengalami transisi sejarah yang sangat luar biasa, penuh darah, air mata dan pelanggaran HAM berat.&lt;br /&gt;Sebagai seorang pemimpin dan negarawan sejati Nelson Mandela telah berhasil “mengendalikan” rakyat Afrika Selatan khususnya warga kulit hitam, untuk tidak membabi buta membalas dendam kepada warga kulit putih yang telah mendzalimi mereka melalui politik apartheid selama bertahun-tahun.&lt;br /&gt;Mandela&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_qkjNMYedSxE/R8ULTulATRI/AAAAAAAACJo/s8XxWXPK-e0/s1600-h/NALSON.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5171552180653542674" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 123px; CURSOR: hand; HEIGHT: 127px" height="144" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_qkjNMYedSxE/R8ULTulATRI/AAAAAAAACJo/s8XxWXPK-e0/s320/NALSON.jpg" width="148" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; membuka pikiran rakyat Afrika Selatan untuk menatap masa depan, dan membebaskan negara Afrika Selatan dari penjara dendam politik berkepanjangan .&lt;br /&gt;Dunia mengakui Afrika Selatan kini menjadi negara maju dengan perekonomian yang kuat dan stabil, pada tahun 2010 mendatang mata dunia akan terfokus pada negeri ini karena terpilih menjadi tuan rumah penyelenggaraan piala dunia sepak bola.&lt;br /&gt;Berbahagialah rakyat Afrika Selatan memiliki pemimpin yang sangat pantas untuk diteladani, harus diakui bangsa Indonesia miskin pemimpin yang patut diteladani.&lt;br /&gt;Suksesi kepemimpinan baik nasional maupun daerah di Indonesia selalu diwaranai dengan kerusuhan, darah, air mata dan dendam politik berkepanjangan.&lt;br /&gt;Ketika Pak Harto “naik” menjadi Presiden menggantikan Bung Karno, ribuan jiwa menjadi korban, pembunuhan atas nama dendam politik berjatuhan, dan korban-korban juga bergelimpangan dimasa selanjutnya, ada yang melalui DOM, Petrus, Penculikan Mahasiswa dan Aktivis yang berseberangan dengan garis politik Pak Harto.&lt;br /&gt;Jaman peralihan dari rezim orde baru ke reformasi juga tidak terlepas dari huru – hara yang mencekam, banyak gedung pertokoan dibakar, isinya dijarah, puluhan bahkan lebih orang mati . Para mahasiswa yang jadi mesin penggerak perubahan jaman, juga mengalami teror, beberapa diantaranya mati tertembus peluru aparat .&lt;br /&gt;Sampai kini dalang kerusuhan mei 1998 itu belum terungkap, termasuk pelaku penembakan terhadap mahasiswa, semuanya masih gelap dan nampaknya ada yang membuatnya semakin gelap.&lt;br /&gt;Jangankan peristiwa mei 1998 sedangkan peristiwa G 30 S/PKI dan Supersemar sampai kini tidak jelas dan semakin kabur, apalagi ketika sang tokoh utama meninggal dunia pada hari minggu 27 Januari 2008.&lt;br /&gt;Ada yang mengangap suksesi kepemimpinan di Indonesia yang sering ricuh dan menimbulkan gejolak sosial politik, dianggap sebagai “dosa turunan” dari sejarah masa lampau kerajaan di Nusantara.&lt;br /&gt;Sebenarnya kalau mau berpikir jernih ini hanya soal komitmen saja, para pemimpin dan elit politik kita, banyak yang mengedepankan kepentingan partai politik dan kekuasaan.&lt;br /&gt;Meskipun dalam undang-undang, Presiden, Gubernur, Bupati/Walikota, menjabat selama 5 tahun dan dapat dipilih selama 2 kali berturut-turut, tapi alangkah indahnya jika para pemimpin hanya berpikir untuk satu kali masa jabatan saja.&lt;br /&gt;Dengan demikian para pemimpin akan mencurahkan perhatiannya kepada kepentingan masyarakat, tidak lagi disibuk kan untuk persiapan kampanye 5 tahun berikutnya, guna mempertahankan kekuasaan.&lt;br /&gt;Keteladanan seperti yang dilakukan Nelson Mandela memang sulit dilaksanakan, tapi dalam kondisi Indonesia seperti sekarang, masyarakat memerlukannya untuk membangun kepercayaan terhadap pemimpinnya, demi kemajuan bangsa.&lt;br /&gt;Sekarang ini ditengah ancaman resesi dunia, harga minyak dunia melambung tinggi, bencana demi bencana masih mendera bangsa Indonesia, rakyat hanya disuguhi akrobat politik dan polusi janji memabukkan untuk menyongsong Pemilu tahun 2009.&lt;br /&gt;Kita memang sangat memimpikan pemimpin yang konsisten terhadap kemajuan bangsa, bukan konsisten terhadap in-konsistensi ………………………….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5927495290352872281-5184762732279262291?l=theindonesianowarie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://theindonesianowarie.blogspot.com/feeds/5184762732279262291/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5927495290352872281&amp;postID=5184762732279262291' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5927495290352872281/posts/default/5184762732279262291'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5927495290352872281/posts/default/5184762732279262291'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://theindonesianowarie.blogspot.com/2008/02/keteladanan-nelson-mandela.html' title='KETELADANAN NELSON MANDELA'/><author><name>The Indonesia Now</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12954051683754295843</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_qkjNMYedSxE/R2ZEgEyElnI/AAAAAAAAAHg/RHVpfOaj82Q/S220/Slide1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_qkjNMYedSxE/R8ULlelATSI/AAAAAAAACJw/wMOL7kPxKXk/s72-c/NALSON+MANDELA.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5927495290352872281.post-6375586502164974410</id><published>2008-02-18T17:16:00.004+07:00</published><updated>2008-02-18T17:23:33.141+07:00</updated><title type='text'>FRUSTRASI</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_qkjNMYedSxE/R7lbyOlASMI/AAAAAAAAB-E/8UVEn-p_crM/s1600-h/banjir.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_qkjNMYedSxE/R7lbyOlASMI/AAAAAAAAB-E/8UVEn-p_crM/s320/banjir.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5168262965849245890" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hampir semua orang pernah merasakan frustrasi, frustrasi berasal dari bahasa latin frustratio yang artinya adalah perasaan kecewa atau jengkel akibat terhalang dalam pencapaian tujuan. Semakin penting tujuannya semakin besar frustrasi dirasakan .&lt;br /&gt; Kata orang bijak  : “hidup tidak seluruhnya berjalan sesuai dengan rencana kita” , namun celakanya frustrasi selalu datang belakangan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena datangnya belakangan itulah, maka frustrasi seringkali mengendap dalam hati, melukai jiwa dan mengharu biru perasaan. Rasa frustrasi bisa menjurus ke stress, sehingga ada yang berakhir dengan tragis sampai bunuh diri.&lt;br /&gt;Banyak penyebab yang melahirkan frustrasi,  faktornya bisa internal maupun eksternal misalnya patah hati, tidak kunjung dapat jodoh, dikhianati, tidak punya uang, jalanan rusak, macet, banjir dan masih banyak hal lainnya.&lt;br /&gt;Ibukota Jakarta adalah kota sumber frustrasi, sehingga  muncul istilah “sekejam-kejamnya ibu tiri masih lebih kejam ibukota”.  Lalu lintas kota Jakarta termasuk salah satu paling parah di dunia, jalanan macet terutama di jam sibuk saat berangkat kerja dan pulang kerja, adalah menu frustrasi sehari-hari bagi warga DKI Jakarta dan sekitarnya.&lt;br /&gt;Hidup di Jakarta harus pandai berakrobat dan memiliki saraf baja, kalau tidak siap-siap saja frustrasi, apalagi saat sekarang harga-harga naik termasuk sembako, tentu membuat kehidupan semakin sulit.&lt;br /&gt;Ditengah kegalauan dan terjebak di lorong gelap kehidupan terkadang kita berharap ada cahaya sebagai penerang entah sekadar dari sepotong lilin, untuk memandu jalan kehidupan yang semakin berat ini.&lt;br /&gt;Cahaya itu seringkali dinyalakan melalui api janji dari para politisi dan birokrat yang berebut menjadi pemimpin, mereka mengumbar  kampanye bahwa jika memilihnya sebagai pemimpin maka masa depan lebih pasti.&lt;br /&gt;Janji-janji yang disokong rombongan Partai Politik itu seperti gelombang tsunami, memporak-pandakan akal sehat, melambungkan jiwa-jiwa yang dahaga hingga ke langit impian.  “Serahkan pada  ahlinya, jangan sembarang memilih pemimpin yang belum teruji !”.&lt;br /&gt;Kini ketika sang ahli terpilih menjadi pemimpin, Jakarta masih macet, masih banjir, angka kriminalitas makin meningkat, penggusuran pedagang kecil masih berlangsung,  akhirnya pengangguran tambah banyak, dan kita semakin frustrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5927495290352872281-6375586502164974410?l=theindonesianowarie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://theindonesianowarie.blogspot.com/feeds/6375586502164974410/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5927495290352872281&amp;postID=6375586502164974410' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5927495290352872281/posts/default/6375586502164974410'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5927495290352872281/posts/default/6375586502164974410'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://theindonesianowarie.blogspot.com/2008/02/frustasi.html' title='FRUSTRASI'/><author><name>The Indonesia Now</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12954051683754295843</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_qkjNMYedSxE/R2ZEgEyElnI/AAAAAAAAAHg/RHVpfOaj82Q/S220/Slide1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_qkjNMYedSxE/R7lbyOlASMI/AAAAAAAAB-E/8UVEn-p_crM/s72-c/banjir.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5927495290352872281.post-4525867415718391933</id><published>2008-01-22T12:49:00.000+07:00</published><updated>2008-01-22T13:00:43.626+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#3333ff;"&gt;CERITA TENTANG &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;color:#3333ff;"&gt;MANUSIA INDONESIA&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Seorang ayah merasa terganggu, karena anak lelakinya tidak henti menggelayuti pundaknya, padahal sang ayah sedang serius menyelesaikan pekerjaan di komputer. Untuk mengalihkan perhatian sang ayah merobek-robek peta Indonesia untuk dijadikan puzzle, lalu sang anak diperintahnya untuk menyusun kembali peta itu. Secara cepat sang anak ternyata mampu menyusun peta Indonesia yang robek itu. Sang ayah terkesima, lalu bertanya :&lt;br /&gt;“Dari mana kamu belajar peta Indonesia ?”.&lt;br /&gt;“Saya tidak pernah belajar Ayah “ jawab sang anak.&lt;br /&gt;“Tapi kok begitu cepat menyusun peta ini ? “ kejar sang ayah penasaran.&lt;br /&gt;“Dibalik peta ini ada gambar manusia, jadi gampang saja menyusunnya” &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_qkjNMYedSxE/R5WFVUyEutI/AAAAAAAABUs/pkk3watWW0E/s1600-h/INDONESIA.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5158175549625252562" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_qkjNMYedSxE/R5WFVUyEutI/AAAAAAAABUs/pkk3watWW0E/s200/INDONESIA.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Cerita tersebut saya kutip dari seorang rohaniwan, lalu dia melanjutkan bahwa inti dari cerita itu adalah jika kita ingin mempersatukan Indonesia mulailah dengan membangun manusianya.&lt;br /&gt;Saya tercenung.Lalu ingatan saya mengembara ke masa lalu saat saya bicara santai dengan sobat saya almarhum Luther Kalasuat (Jurnalis senior asal Papua). Tiba-tiba saja Luther bertanya hal yang sulit .&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“ Coba sampaikan secara jujur, apa yang ada dalam pikiranmu soal Papua “&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_qkjNMYedSxE/R5WF9EyEuuI/AAAAAAAABU0/NpDps3a2NOs/s1600-h/ORANG+PAPUA+ASLI.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5158176232525052642" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_qkjNMYedSxE/R5WF9EyEuuI/AAAAAAAABU0/NpDps3a2NOs/s320/ORANG+PAPUA+ASLI.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Saya terdiam dan jujur saja tidak berani menjawab.&lt;br /&gt;“ Oke saya tidak marah kok, apa yang kamu pikirkan juga banyak dipikirkan oleh orang-orang lain termasuk pejabatnya. Yang ada diotak mereka soal Papua adalah kekayaan hutannya, kekayaan tambangnya pokoknya kekayaan alamnya, hampir tidak pernah terlintas soal manusia Papuanya “. Ujar Luther dengan santai tanpa beban.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ya almarhum Luther benar, kita jarang memikirkan manusianya yang terpikirkan adalah bagaimana mengeksploitasi kekayaan alamnya, jadi jangan heran jika suku Amungwe yang berada di lokasi Freepot, masih terpuruk hidupnya. Penguasa hanya memikirkan emas di perut bumi Papua. Tidak memikirkan perut orang Papua.Saya hanya bisa merenung saja dalam diam, sering kita dengarkan jargon di masa lalu “membangun manusia Indonesia seutuhnya”, tapi itu semua hanya berhenti di jargon saja. Sampai saat ini kita belum utuh, kita memerlukan keteladanan dari pemimpin kita. Dan jangan pernah berhenti berharap, sebab pemimpin kita juga manusia ……………….&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5927495290352872281-4525867415718391933?l=theindonesianowarie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://theindonesianowarie.blogspot.com/feeds/4525867415718391933/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5927495290352872281&amp;postID=4525867415718391933' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5927495290352872281/posts/default/4525867415718391933'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5927495290352872281/posts/default/4525867415718391933'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://theindonesianowarie.blogspot.com/2008/01/cerita-tentang-manusia-indonesia.html' title=''/><author><name>The Indonesia Now</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12954051683754295843</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_qkjNMYedSxE/R2ZEgEyElnI/AAAAAAAAAHg/RHVpfOaj82Q/S220/Slide1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_qkjNMYedSxE/R5WFVUyEutI/AAAAAAAABUs/pkk3watWW0E/s72-c/INDONESIA.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5927495290352872281.post-2798588807668555143</id><published>2008-01-21T19:31:00.000+07:00</published><updated>2008-01-22T16:22:59.942+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_qkjNMYedSxE/R5W1PEyEuwI/AAAAAAAABVA/H5nC_kQJ9g4/s1600-h/KAMBING%2BHITAM.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5158228218809203458" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_qkjNMYedSxE/R5W1PEyEuwI/AAAAAAAABVA/H5nC_kQJ9g4/s200/KAMBING%2BHITAM.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#3333ff;"&gt;KAMBING HITAM MERATAPI TEMPE&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#3333ff;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Setiap hari almarhumah ibu saya, selalu menghidangkan tempe di meja makan, tidak heran jika hingga usia dewasa saya tidak bisa lepas dari lauk tempe, kalau di meja makan tidak ada tempe, rasanya ada sesuatu yang hilang. Jenis masakan tempe bermacam-macam ada tempe penyet, sayur lodeh, botok, mendoan, bacem, keripik dan masih banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Di kota kelahiran saya Malang, termasuk kota produsen tempe terkenal dan terenak menurut lidah saya, kebetulan rumah tinggal saya berdekatan dengan kampung Sanan, salah satu sentra produsen tempe. Saya masih mengenal jenis tempe selain tempe biasa yakni tempe kacang, tempe menjes, tempe bosok dan tempe bongkrek ( yg satu ini untuk pakan ternak ).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_qkjNMYedSxE/R5W1eEyEuxI/AAAAAAAABVI/IjvbsVpj_6Q/s1600-h/tempe.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5158228476507241234" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_qkjNMYedSxE/R5W1eEyEuxI/AAAAAAAABVI/IjvbsVpj_6Q/s200/tempe.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Tidak ada yang istimewa dari tempe ini. Karena saking kampungannya dan banyak dikonsumsi rakyat kecil maka seringkali tempe menjadi bahan olok-olok, yang paling terkenal adalah ungkapan Bung Karno “kita bukan bangsa tempe”. Sebagai penggemar berat tempe, saya tidak pernah mendeklarasikan secara terbuka, malu disebut kampungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sejak Republik ini merdeka, tidak ada masalah dengan tempe, bisnis tempe tetap berjalan seperti biasa, meski sempat ada ramai sedikit dimedia ketika Jepang mendaftarkan hak paten sebagai negara pembuat tempe.Tapi karena kita bukan bangsa tempe maka isu tersebut lewat begitu saja, para produsen tempe yang kebanyakan pengusaha tradisional dan pastinya pengusaha kecil juga tidak memasalahkan, atau mungkin tidak tahu, jadi diam saja , yang penting tiap hari mereka berproduksi, yah business is usually.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tapi tiba-tiba kita tersentak, ketika ribuan pedagang tempe melakukan aksi unjuk rasa di depan Istana Merdeka dan Gedung DPR pada hari senin 14 Januari 2008, mereka protes atas melambungnya harga kedelai, bahan baku tempe dan tahu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tiba-tiba kita baru terbangun dari mimpi, bahwa selama ini kita makan tempe impor, karena kedelai nya didatangkan dari Amerika Serikat, Brasil dan Argentina. Harga kedelai impor yang lebih murah dari kedelai lokal, menyebabkan petani kita enggan menanam kedelai.&lt;br /&gt;Ketika negara pengimpor mengurangi produksinya tidak lagi menanam kedelai, terjadilah mala petaka itu. Pasokan kedelai berkurang dan harganya meroket, dampaknya perajin tempe menjerit, ongkos produksinya menjadi mahal, banyak yang terpaksa gulung tikar.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jeritan pengusaha kecil ini menggetarkan Istana, menikam nurani wakil rakyat di DPR, dan yang lebih memilukan dikabarkan seorang penjaja gorengan bernama Selamet warga Kampung Cidemang , Pandeglang mengkhiri hidupnya dengan cara menggantung diri karena tidak tahan dikepung kenaikan harga.Masalah tempe ini menjadi isu disidang kabinet, wakil rakyat di DPR sibuk berteriak menekan pemerintah, para pengamat sibuk berteori, semuanya bersuara mencari kambing hitam pembuat onar harga kedelai.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Padahal kita memiliki Departemen Pertanian, Departemen Perdagangan, Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah, Bulog. dan masih banyak institusi lainnya, tapi mengapa soal tempe saja kita harus sibuk cari kambing hitam.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Saya pikir Bung Karno benar kita memang bukan bangsa tempe, tapi bangsa kambing hitam. &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5927495290352872281-2798588807668555143?l=theindonesianowarie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://theindonesianowarie.blogspot.com/feeds/2798588807668555143/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5927495290352872281&amp;postID=2798588807668555143' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5927495290352872281/posts/default/2798588807668555143'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5927495290352872281/posts/default/2798588807668555143'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://theindonesianowarie.blogspot.com/2008/01/kambing-hitam-meratapi-tempe-s-etiap.html' title=''/><author><name>The Indonesia Now</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12954051683754295843</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_qkjNMYedSxE/R2ZEgEyElnI/AAAAAAAAAHg/RHVpfOaj82Q/S220/Slide1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_qkjNMYedSxE/R5W1PEyEuwI/AAAAAAAABVA/H5nC_kQJ9g4/s72-c/KAMBING%2BHITAM.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5927495290352872281.post-8363755297332814745</id><published>2008-01-18T14:04:00.000+07:00</published><updated>2008-01-18T16:05:57.648+07:00</updated><title type='text'>"DOSA" SEORANG WARTAWAN</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;em&gt;G&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;empa bumi yang diikuti tsunami di Aceh dan Nias 26 Desember 2004 tercatat sebagai salah satu bencana alam yang dahsyat di bumi ini, ribuan orang meninggal dunia, infrastruktur kota luluh lantak, dihempas gempa dan diterjang tsunami.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa mengenaskan itu menjadi “head line” media seluruh dunia, sehingga banyak jurnalis luar negeri meliput dilokasi bencana, hingga berhari-hari untuk memberitakan penderitaan maha berat yang dialami rakyat Aceh dan Nias.Tidak ketinggalan Televisi NHK Jepang, juga mengirimkan kru ke Indonesia, sebelum ke lokasi bencana mereka terlebih dahulu menemui sejumlah jurnalis Indonesia di Jakarta, untuk mencari masukan informasi sekaligus membuka akses.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesempatan itu saya juga menceritakan pernah meliput tsunami di Flores pada tahun 1992, sambil memperlihatkan dokumentasi liputan saya yang kebetulan masih tersimpan dalam file pribadi.Kru NHK itu sangat tertarik kemudian minta agar saya bersedia diwawancarai untuk melengkapi liputan mereka. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Saya tentu saja bersedia, kapan lagi masuk televisi Jepang.Tapi keesokan harinya ketika saya diwawancarai oleh wartawan NHK, saya menyesal memenuhi permintaan mereka, karena saya tiba-tiba merasa bahwa selama ini ternyata saya adalah wartawan bodoh.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Apa saja yang telah dilakukan anda untuk mensosialisasikan tentang apa itu tsunami ?”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Maksud anda ?” Tanya saya kembali.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Sebagai wartawan kita punya komitmen memberikan pengertian dan pendidikan melalui media kepada masyarakat termasuk tsunami, agar mereka paham sehingga memiliki persiapan untuk menyelamatkan diri, jika terdapat tanda-tanda tsunami selepas terjadi gempa.” Saya terhenyak, dalam diam.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Apalagi Indonesia adalah salah satu negara yang mempunyai potensitsunami, kalau saja sosialisasi itu sering diberitakan di media, palingtidak akan mengurangi jumlah korban, karena korban tsunami itu banyakyang tidak tahu tanda-tanda terjadinya gelombang tsunami?” lanjutnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sampai wawancara berakhir saya masih merenung, ada rasa bersalah atau mungkin tepatnya berdosa, bahwa ternyata sebagai wartawan saya tidak memiliki kontribusi positif apa-apa terhadap masyarakat.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ketika meliput bencana alam, huru-hara politik maupun krerusuhan sosial, yang saya kejar adalah berapa orang yang meninggal, gambar-gambar yang ditampilkan adalah gambar mayat yang bergelimpangan dijalanan. Darah dan darah ! sungguh mengerikan mengingat itu semua.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat seorang Diplomat Perwakilan Tetap RI di PBB New York, bercerita ketika di layar TV ditayangkan gambar orang meloncat dari lantai atas Gedung WTC saat diledakkan oleh teroris dengan menabrakkan dua pesawat komersial yang mereka bajak, para orang tua protes. Pihak stasiun Televisi pun menyetop tayangan tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Saya juga teringat ketika Badai Katrina memporakporandakan New Orleans pada September 2005, di televisi tidak ada gambar sosok mayat yang bergelimpangan, tapi kita semua mahfum ada banyak korban tewas.Sebagai wartawan saya sering terjebak dengan berita-berita sensasional, akhirnya secara tidak langsung juga ikut menyumbang mempengaruhi masyarakat bahwa berita bencana kalau tidak ada darah bukan berita.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini ketika menyaksikan pemberitaan di media cetak maupun elektronik tentang sakitnya Pak Harto di RSPP Pertamina, saya merenung sebenarnya yang ditunggu para wartawan di RSPP itu, apakah berita sembuhnya Pak Harto atau sebaliknya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Saya berharap para jurnalis itu memang betul-betul sedang menunggu berita kesembuhan Pak Harto, karena kalau kebalikannya maka mereka mengulangi kebodohan saya, hanya mengejar sensasi ! &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5927495290352872281-8363755297332814745?l=theindonesianowarie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://theindonesianowarie.blogspot.com/feeds/8363755297332814745/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5927495290352872281&amp;postID=8363755297332814745' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5927495290352872281/posts/default/8363755297332814745'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5927495290352872281/posts/default/8363755297332814745'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://theindonesianowarie.blogspot.com/2008/01/dosa-seorang-wartawan.html' title='&quot;DOSA&quot; SEORANG WARTAWAN'/><author><name>The Indonesia Now</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12954051683754295843</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_qkjNMYedSxE/R2ZEgEyElnI/AAAAAAAAAHg/RHVpfOaj82Q/S220/Slide1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5927495290352872281.post-5685186437386018058</id><published>2008-01-15T17:49:00.000+07:00</published><updated>2008-01-18T16:09:03.034+07:00</updated><title type='text'>RETROSPEKSI</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#000099;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;ANTARA TOKYO, LEIDEN, SINGAPORE &amp;amp; JAKARTA&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#000099;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;strong&gt;1992 &lt;/strong&gt;; &lt;em&gt;Angin musim semi berhembus pelan, dan nampak malas membelai dedaunan yang mulai menghijau memenuhi reranting pepohonan di sekujur jalanan Tokyo. Menurut ramalan cuaca yang tertera di dinding digital sebuah pertokoan di Ginza, 30 menit lagi hujan akan turun, saya bergegas menuju Hotel Imperial&lt;/em&gt;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;br /&gt;Menyoal Hotel Imperial ini, rekan saya wartawan NHK menyindir, seharusnya Pemerintah Jepang tidak perlu membantu Indonesia, karena orang Indonesia kaya buktinya rombongan pejabat beserta wartawan yang berkunjung ke Tokyo dalam rangka minta bantuan ekonomi malah menginap di Hotel super mewah ini.&lt;br /&gt;Jalanan di samping hotel sangat padat ketika itu, saya melihat serombongan anak sekolah setingkat SD, berjalan mendahului langkah saya, ketika berada di pinggir Zebra Cross, dengan tenang mereka menyeberang tanpa rasa was-was, semua kendaraan berhenti meskipun tanpa dilengkapi lampu lalu lintas, saya pun bergegas mengikuti rombongan anak SD itu.&lt;br /&gt;Ketika saya ceritakan pengalaman itu kepada rekan wartawan NHK, dia menjelaskan, “ sejak Taman Kanak-kanak, para guru dan orang tua mengajarkan bahwa kita harus tertib, disiplin, mematuhi peraturan dan hukum. Negara sudah menjamin kepastian hukum, sehingga tidak ada alasan bagi mereka takut menyeberang di Zebra Cross” .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1995&lt;/strong&gt; ; Udara kota Leiden Belanda tercatat 7 derajat celcius dibawah nol, kanal-kanal sudah membeku, orang-orang bergembira meluncur dengan sepatu es diatas kanal. Saya terpaksa keluar Hotel, mencari restoran cina, perut kampung ini harus diisi nasi baru terasa “nendang”.&lt;br /&gt;Berjalan di bawah gerimis salju, deru angin seperti tusukan jarum menembus over coat, dingin memagut kulit, sementara butiran salju seperti kapas melayang di udara, sebagian membasahi wajah.&lt;br /&gt;Jalanan Leiden masih lengang, ketika saya berada di tepi Zebra Cross , namun dari arah kanan nampak sebuah mobil meluncur cepat, saya berhenti menunggu mobil lewat. Akan tetapi sesampainya di Zebra Cross mobil itu berhenti, pengemudinya anak muda berambut gondrong menyilakan saya untuk menyeberang. Ketika saya balik menyilakan agar dia lewat saja, dia malah berkeras agar saya segera menyebarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa itu saya ceritakan ke seorang teman, mahasiswa Universitas Leiden, dia menjelaskan Zebra Cross itu milik pejalan kaki, jadi jika pemiliknya akan lewat semua kendaraan harus berhenti, dan itu sudah menjadi bagian dari kepastian hukum di Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1997&lt;/strong&gt; ; Suasana teduh memayungi sepanjang Orchard Road Singapore, pepohonan rindang, menjala cahaya matahari musim kemarau dan daun-daunnya menyerap polusi yang mengotori langit negeri kecil ini.&lt;br /&gt;Angin sejuk mengusap tubuh, saat saya berdiri dalam deretan antrean panjang, di halte tempat pemberhentian taksi, orang-orang antre sangat tertib. Banyak turis asal Indonesia ikut dalam antrean dan mereka juga sangat patuh.. Di Singapore memang serba teratur, kita tidak bisa seenaknya menyetop taksi dan bus, semua sudah ditentukan tempatnya.&lt;br /&gt;Saya mendengar percakapan seorang turis asal Indonesia kepada kawannya yang juga ikut dalam antrean panjang ini, “ Wah ternyata kita bisa juga tertib ikuti peraturan ya padahal kalau di negeri sendiri kita ini amburadul “ ujarnya. Kawannya lalu menimpali, “ Iyalah kalau kita melanggar di Singapore ini tidak hanya soal pelanggaran hukum, tapi lebih dari itu kita nanti dicap sebagai manusia yang tidak berbudaya, disini budaya malu itu sudah sangat tinggi “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2008&lt;/strong&gt; ; Udara panas membakar Jakarta, meskipun hujan masih sering mengguyur namun hembusan angin masih belum mampu mengusir gerah, pohon-pohon rindang yang melindungi jalanan dari terik matahari, justru banyak ditebang oleh Pemerintah DKI demi proyek “Bus Way” dan pembangunan tiang pancang “Mono Rail” .&lt;br /&gt;Sudah lama saya berdiri di pinggir Zebra Cross, lalu lintas sangat padat, mobil dan motor berebut jalan, melaju cepat.. Sejumlah pengendara motor mellintas diatas trotoar beberapa diantaranya memaki saya, karena terhalang oleh saya yang berdiri di trotoar. Sementara beberapa mobil dari jauh justru mengedip-ngedipkan lampu dan menambah kecepatannya, begitu tahu saya akan menyeberangi Zebra Cross.&lt;br /&gt;Akhirnya saya putus asa, ketika ada taksi kosong melintas saya berhentikan,. Sopir taksi menyapa saya cukup ramah : “ mau ke mana Pak “, saya menyebut sebuah kantor Bank. Sopir taksi itu terkejut “ Lho kan lokasinya diseberang jalan ini Pak ? “&lt;br /&gt;“Sudahlah Pak antar saya, memutar di bundaran depan sana, saya sudah hampir satu jam berdiri dipinggir Zebra Cross ! “ sergah saya.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Cape’ deh&lt;/em&gt; ……………&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5927495290352872281-5685186437386018058?l=theindonesianowarie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://theindonesianowarie.blogspot.com/feeds/5685186437386018058/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5927495290352872281&amp;postID=5685186437386018058' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5927495290352872281/posts/default/5685186437386018058'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5927495290352872281/posts/default/5685186437386018058'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://theindonesianowarie.blogspot.com/2008/01/restrospeksi.html' title='RETROSPEKSI'/><author><name>The Indonesia Now</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12954051683754295843</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_qkjNMYedSxE/R2ZEgEyElnI/AAAAAAAAAHg/RHVpfOaj82Q/S220/Slide1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5927495290352872281.post-5450492987486131237</id><published>2008-01-15T17:00:00.000+07:00</published><updated>2008-01-15T18:12:53.786+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;color:#000099;"&gt;PAK HARTO JUGA MANUSIA ...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di jaman Pak Harto berkuasa, negara selalu dalam keadaan “aman- terkendali“, termasuk juga pers, sebab jika ada pemberitaan yang secara terbuka berani mengkritisi pemerintah apalagi Pak Harto dan keluarga, maka nasib pers tersebut dapat dipastikan bakal tamat riwayatnya dibreidel Departemen Penerangan. Pak Harto jarang bicara ( meskipun kalau pidato sangat panjang baca teks dan monoton ) hanya mengembangkan sen&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_qkjNMYedSxE/R4yF7kyEs-I/AAAAAAAABGw/CJUtMI3HbT0/s1600-h/SOEHARTO.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5155642931964851170" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_qkjNMYedSxE/R4yF7kyEs-I/AAAAAAAABGw/CJUtMI3HbT0/s200/SOEHARTO.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;yum tipisnya yang misterius sehingga mendapat julukan “The Smiling General” , semakin membuatnya berwibawa. Wibawa Pak Harto inilah yang banyak membuat orang segan jika berdekatan dan selalu bersikap menghormat berlebihan dihadapan Pak Harto, selain itu Pak Harto termasuk sulit ditemui. Pokoknya ketika itu kekuasaan Pak Harto bagaikan Raja. Akan tertapi Pak Harto juga seorang manusia biasa, berikut ini ada beberapa cerita ringan yang menggambarkan bahwa sebagai manusia biasa Pak Harto juga seperti kita, kadang suka juga bercanda. Pak &lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_qkjNMYedSxE/R4sPqEyEsUI/AAAAAAAABBc/g_E1hVL7h-k/s1600-h/SOEHARTO.jpg"&gt;&lt;/a&gt;Harto dan Suspender Menteri Sekretaris Negara Moerdiono ketika itu, sesekali di waktu kosong suka ngobrol di Press Room Istana Kepresidenan, seperti biasa Pak Moer demikian kami para wartawan memanggilnya, tidak hanya ngobrol soal situasi negara tetapi seringkali bercanda dan berolok-olok dengan para wartawan. Suatu hari ada seorang wartawan yang iseng menanyakan berapa jumlah koleksi suspender Pak Moer, karena dibalik jasnya selalu memakai suspender yang juga berganti-ganti setiap hari. “ Wah kalau jumlahnya tidak perlu saya sebutkan, tapi ini ada cerita menarik soal suspender, ternyata Bapaknya itu ( maksudnya Pak Harto red. ) tahu kalau saya suka mengenakan suspender “ ceritanya dengan bangga, kemudian Pak Moer melanjutkan. “ Nah kapan hari itu seusai saya menyampaikan laporan kepada Bapaknya, beliau bertanya kepada saya, Moer kamu suka pakai suspender juga “ “ Iya Pak “ “ Setahu saya di Indonesia ini kalau begitu hanya dua orang terkenal yang senang pakai suspender selain kamu “ kata Pak Harto sambil tersenyum. Menurut Pak Moer dirinya merasa bangga sekali karena ternyata Pak Harto juga penggemar suspender seperti dia, tapi untuk lebih meyakinkan lagi, Pak Moer memberanikan diri untuk bertanya siapa orang terkenal satunya lagi di Indonesia itu. “ Mohon izin Pak , kalau boleh tahu siapa yang satunya lagi ? “ Pak Harto kembali tersenyum, lalu menjawab : “ JOJON ! “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Pak Harto dan Saidi&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Harto memiliki seorang fotografer pribadi yang sangat disayanginya, namanya Saidi seorang prajurit berpangkat setingkat Bintara, namun karena “hawa” Pak Harto maka pengaruh dan kekuasaannya kadang melebihi Jendral. Pak Saidi demikian kami para wartawan memanggilnya, orangnya sederhana, polos dan baik hati. Melalui Pak Saidi sering segala urusan birokrasi termasuk usulan kepada Pak Harto selalu beres. Kedekatan Pak Saidi dengan Pak Harto ketika itu dapat dibuktikan, bahwa dia dapat izin untuk memasang mike kecil ( clip on ) di baju Pak Harto dan dia juga bebas memasang kancing baju atau kerah baju Pak Harto yang kebetulan kurang rapih. Suatu saat selesai pelantikan Kabinet baru, para menteri yang kebanyakan baru juga melakukan foto bersama di tangga Istana Merdeka, dan biasanya disini sering terjadi kegaduhan kecil perihal posisi berdiri para menteri. Nah disinilah peran Pak Saidi sangat penting, dengan “gaya” Pak Saidi memerintah para menteri, apalagi pada saat pose “ngapurancang”, tidak semua menteri berasal dari Jawa sehingga tidak mengerti apa itu ngapurancang. Pak Saidi pun berteriak dan terdengar setengah membentak para menteri itu “ Pak perhatikan ngapurancang itu begini (sambil kedua tangannya ditangkupkan dibawah pusar ), cepat Pak ini matahari sudah panas, Bapak Presiden sudah kepanasan nih “ Pak Harto tersenyum dan merasa terhibur dengan gaya Pak Saidi, lalu sambil menahan tertawa Pak Harto berkomentar kepada Wakil Presiden dan Menko yang berada disampingnya, “ Saya sebagai Presidennya belum memarahi para menteri, kok daripada Saidi berani mendahului saya ….he …he ..he ..he “ .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Pak Harto dan Sapi&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut catatan kami para wartawan yang bertugas di Istana di masa Pak Harto, ada beberapa peristiwa yang sangat diminati Pak Harto yakni ketika meresmikan Proyek Pertanian, Perikanan dan ketika berada di peternakan sapi miliknya di Tapos Bogor. Biasanya Pak Harto berada di Tapos antara Sabtu dan Minggu, dan paginya sering mengundang para tamu, untuk melihat dari dekat peternakan sapi yang dibanggakannya. Tapos&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_qkjNMYedSxE/R4sP5UyEsVI/AAAAAAAABBk/ea-Pe7DgDKU/s1600-h/SAPI.jpg"&gt;&lt;/a&gt; juga sering digunakan untuk memberikan penjelasan tentang isu-isu penting, baik politik maupun ekonomi. Suatu saat Pak Harto mengundang para konglomerat, orang-orang kaya di negeri ini ke Tapos, seperti juga tamu-tamu lainnya para tamu itu juga diajak tour keliling Tapos, &lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_qkjNMYedSxE/R4yGCkyEs_I/AAAAAAAABG4/_fvqTaqWui4/s1600-h/SAPI.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5155643052223935474" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_qkjNMYedSxE/R4yGCkyEs_I/AAAAAAAABG4/_fvqTaqWui4/s200/SAPI.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;dengan tangkas dan sangat ahli Pak Harto menjelaskan diluar kepala tentang khasiat rumput gajah sebagai pakan ternak, pupuk kompos dan tentu saja bagaimana proses penggemukan sapi. Pada saat memberikan keterangan mengenai penggemukan sapi, Pak Harto mengajak pata tamu itu berlama-lama di dalam kandang sapi untuk mendengarkan penjelasannya. Bahkan tanpa canggung Pak Harto memasukkan tangannya ke dalam dubur sapi untuk mengetes apakah sapi tersebut hamil. Dengan ringan Pak harto menjelaskan kalau sapi tersebut sehat dan tidak sedang dalam keadaan hamil, “ Kenapa tidak hamil ? “ tanyanyanya yang kemudian dijawabnya sendiri , “ karena daripada sapi itu jenis kelaminya jantan ………….. “Tentu saja suasana jadi cair, semua tertawa lepas. Namun salah seorang konglomerat yang penulis tahu adalah pemilik sejumlah perusahaan raksasa, mengeluh dengan wajah kecut, “ saya mending disuruh mendengarkan pidato Pak Harto selama 5 jam daripada berdesakan di kandang sapi seperti ini, saya tidak tahan baunya, tapi saya mana berani keluar kandang sebelum Bapaknya keluar, wah jangan-jangan kami ini dikerjain Pak Harto “ katanya lirih sambil tersenyum masam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Pak Harto dan Telepon &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiapkali pembentukan Kabinet baru, banyak para elit politik dan tokoh masyarakat yang menjadi Ge- eR, semua memerintahkan keluarga di rumah agar tidak menggunakan telepon ( waktu itu telepon seluler belum merakyat ), karena para orang Ge-eR itu takut kalau ada telepon dari Cendana . Pak Harto memang memiliki kebiasaan menghubungi calon menteri yang akan masuk dalam jajajran Kabinet melalui telepon langsung, kepada yang bersangkutan. Salah seorang menteri di era Pak Harto yang kini menjabat sebagai petinggi di Legislatif, bercerita tentang telepon Pak Harto. Ketika ia dihubungi melalui telepon, saat itu sedang santai sambil tiduran di rumah, begitu tahu bahwa yang menelpon Pak Harto, langsung tokoh kita itu berdiri tegak dalam sikap sempurna seolah Pak Harto berada di hadapannya, dadanya bergemuruh. Menurutnya ia hanya bisa menjawab “ siap Pak “ berulang-ulang, ketika ditanya kesiapannya menjadi menteri. Kemudian ia melanjutkan, berbeda dengan Presiden berikutnya, posisinya sama sedang tiduran ketika menerima telepon, dan ketika ian tahu ditelepon Presiden agar bersedia menjadi menteri, ia santai saja tetap tiduran dan menjawab “ Ok “ . Ketika ditanya bagaimana kalau ditelpon Presiden yang sekarang, tokoh kita itu memelototkan matanya, “ jangan memancing-mancing ya “ sergahnya sambil tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Pak Harto dan Cinta&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“ Alhasil, perkawinan kami tidak didahului dengan cinta-cintaan seperti yang dialami oleh anak muda delapan puluhan sekarang ini. Kami berpegang pada pepatah witing tresna jalaran saka kulina, datangnya cinta karena bergaul dari dekat. “&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah pern&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_qkjNMYedSxE/R4yGSkyEtAI/AAAAAAAABHA/RKN-mpp2n48/s1600-h/BU+TIN.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5155643327101842434" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_qkjNMYedSxE/R4yGSkyEtAI/AAAAAAAABHA/RKN-mpp2n48/s200/BU+TIN.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;yataan yang dipaparkan Pak Harto dalam buku otobiografi nya, Soeharto : Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya, yang diterbitkan pada tahun 1989. Jodoh Pak Harto memang diatur oleh para orang tua, meskipun ia mengenal Almarhumah Ibu Tien, semasa di bangku sekolah, karena kebetulan Ibu Tien adalah adik kelasnya. Perkawinan Pak Harto termasuk “langgeng”, hanya maut yang memisahkan mereka, ketika Ibu Tien wafat di tahun 1996, saat perkawinan mereka berusia 49 tahun. Pak Harto termasuk lelaki penganut monogami. Sebagai orang terkenal dan pernah memegang tampuk kekuasaan selama 32 tahun, tentu ada juga percikan isu tentang hubungan Pak Harto dengan perempuan lain selain Ibu Tien. Yang paling santer adalah hubungannya dengan bintang film cantik R-E, tapi ternyata itu hanya sebatas rumor belaka, yang tidak berdasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai wartawan Istana Kepresidenan penulis sering mengikuti perjalanan Pak Harto ketika bersama keluarga ziarah ke makam Ibu Tien di Astana Giribangun, Karang Anyar Jawa Tengah. Penulis melihat betapa khusuk dan tulus Pak Harto memanjatkan doa untuk isteri tercintanya. Penulis menilai begitu besarnya cinta Pak Harto kepada Ibu Tien, sering Pak Harto bila ziarah dilanjutkan dengan “tuguran”, yakni bermalam di makam, sambil melantunkan ayat-ayat suci. Barangkali ada yang disesalinya kini, ketika Pak Harto dalam keadaan sakit parah dan bergantung pada peralatan medis, ada keinginannya yang tidak akan terpenuhi seperti yang ditulis dalam otobiografinya dalam episode Kalau Ajal Saya Sampai. “ Kalau saatnya tiba saya dipanggil oleh Yang Maha Kuasa, maka mengenai diri saya selanjutnya sudah saya tetapkan : saya serahkan kepada isteri saya. “ &lt;strong&gt;(Arie)&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5927495290352872281-5450492987486131237?l=theindonesianowarie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://theindonesianowarie.blogspot.com/feeds/5450492987486131237/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5927495290352872281&amp;postID=5450492987486131237' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5927495290352872281/posts/default/5450492987486131237'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5927495290352872281/posts/default/5450492987486131237'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://theindonesianowarie.blogspot.com/2008/01/pak-harto-juga-manusia.html' title=''/><author><name>The Indonesia Now</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12954051683754295843</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_qkjNMYedSxE/R2ZEgEyElnI/AAAAAAAAAHg/RHVpfOaj82Q/S220/Slide1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_qkjNMYedSxE/R4yF7kyEs-I/AAAAAAAABGw/CJUtMI3HbT0/s72-c/SOEHARTO.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5927495290352872281.post-2938145263210604933</id><published>2008-01-15T16:59:00.000+07:00</published><updated>2008-01-15T17:16:24.393+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:180%;color:#000099;"&gt;TKI&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#ff6600;"&gt;Riwayatmu Sedari Dulu...&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;D&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;alam setiap penerbangan dari dan ke Singapura, Malaysia, Hongkong, Korea Selatan dan jazirah Arab penulis sering berbarengan dengan serombongan tenaga kerja Indonesia, mereka selalu berkelompok dan mudah dikenali. Bagi mereka yang berangkat dari Jakarta, wajahnya kelihatan penuh harap namun acapkali gagap dan sering menyulitkan pramugari penerbangan asing, karena faktor bahasa dan kebanyakan baru pertamakali naik pesawat udara. Tetapi kru pesawat asing itu melayani mereka penuh kesabaran dan justru membantu mereka agar mengerti peraturan sebagai penumpang pesawat. Sementara bagi mereka yang pulang ke tanah air, wajahnya penuh kegembiraan dan penampilannya sudah lebih modis, meski tetap saja selalu berkelompok. Seperti yang saya temui ketika penulis transit di Bandar Udara Qatar dari perjalanan Amman Yordania ke Jakarta beberapa waktu lalu. Di Bandara Qatar yang modern, sepertihalnya penumpang lainnya rombongan TKI itu mendapatkan layanan kemewahan negeri kaya itu, mereka sangat gembira dan benar-benar menikmati. Di dalam pesawat pun mereka diperlakukan sebagai tamu terhormat seperti layaknya penumpang yang membayar tiket ke maskapai penerbangan asing ini, termasuk para pramugari bule, sangat ramah kepada para TKI kita itu. Ketika transit di Bandar Udara Internasional Changi Singapura, mereka juga terlihat gembira menikmati kemegahan dan layanan publik yang sangat profesional di Changi ini, meskipun bayang-bayang kelelahan tergurat diwajah mereka. Akan tetapi kecemasan mulai tampak di wajah mereka ketika roda pesawat menjejak runway Bandar udara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, kecemasan itu semakin menebal ketika keluar dari pintu pesawat. Penulis seringkali menyaksikan ritual itu, sungguh ironis para TKI kita yang di bandara luar negeri diperlakukan secara terhormat sebagaimana layaknya penumpang pesawat lainnya, tapi justru di negeri sendiri mereka diperlakukan sebagai warga negara kelas tiga ! Rombongan TKI itu dihalau petugas ke tempat antrean imigrasi yang berbeda dan dipisahkan dengan penumpang lainnya, perlakuan terhadap mereka benar-benar menyakiti rasa kemanusiaan kita. Belum lagi sikap petugas perusahaan penukaran valuta asing, mereka memaksa dan mengintimidasi agar para TKI menukar uangnya di Bandara, padahal harganya sangat rendah dibanding nilai tukar resmi . Pemerasan dan intimidasi terhadap mereka berlanjut terus dari loket imigrasi sampai ke penyewaan kendaraan menuju ke kampung halaman, calo-calo yang bersekutu dengan petugas bergentayangan menjarah dan memangsa isi dompet mereka. Bahkan para keluarga yang menjemputTKI pun tidak diperbolehkan menemui mereka di Terminal khsusus TKI, kecuali kalau memberikan uang sogok. Sudah banyak diberitakan soal perlakuan tidak manusiawi terhadap para pahlawan devisa itu, yang mencari kerja keluar negeri, yang memeras keringatnya secara spartan di negeri orang, yang jauh meninggalkan keluarga demi masa depan, karena di tanah air, masa depan itu adalah ketidakpastian. Para TKI itu adalah orang-orang hebat, mereka membantu memecah kebuntuan pemerintah yang belum mampu menyediakan lapangan kerja yang luas, seharusnya disambut dengan karpet merah bukan “kapak merah “. Kita memberikan apresiasi yang tinggi atas perhatian Presiden SBY terhadap nasib TKI, seperti yang dilakukan dalam kunjungannya ke Malaysia, Presiden SBY secara khusus menyediakan waktu menemui Nirmala Bonat TKI yang disiksa majikannya, ini akan memberikan efek psikologis yang positif bagi perlindungan hukum terhadap TKI kita di luar negeri. Tinggal bagaimana jajaran aparat pemerintahan dibawahnya menerjemahkan secara benar untuk melindungi TKI terutama di dalam negeri, memang pemerintah telah banyak membentuk beberapa institusi untuk melindungi TKI. Termasuk membentuk Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia ( BNP2TKI ), akan tetapi pemerasan dan pelecehan terhadap TKI masih berlangsung terutama di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Jangan-jangan semakin banyak pengawasan justru semakin in-efisiensi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5927495290352872281-2938145263210604933?l=theindonesianowarie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://theindonesianowarie.blogspot.com/feeds/2938145263210604933/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5927495290352872281&amp;postID=2938145263210604933' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5927495290352872281/posts/default/2938145263210604933'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5927495290352872281/posts/default/2938145263210604933'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://theindonesianowarie.blogspot.com/2008/01/tkiriwayatmu-sedari-dulu.html' title=''/><author><name>The Indonesia Now</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12954051683754295843</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_qkjNMYedSxE/R2ZEgEyElnI/AAAAAAAAAHg/RHVpfOaj82Q/S220/Slide1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5927495290352872281.post-2961469650089010701</id><published>2008-01-15T16:56:00.000+07:00</published><updated>2008-01-15T16:58:58.120+07:00</updated><title type='text'>Menyoal Nasionalisme Anak Muda</title><content type='html'>&lt;em&gt;“ …….Hanya diwaktu malam sebelum tidur, saya selalu merasakan adanya kekosongan ! saya tak mempunyai seorang disampingku yang dapat melihat air mataku bercucuran, saya menjadi jengkel karena egoisme yang begitu besar dari beberapa orang yang mengaku pemimpin …………. “ &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah petikan surat cinta dari Bung Tomo kepada isteri terkasihnya Sulistina, setelah ia menjadi politisi dan bertugas di Jakarta, meski sudah beristeri tapi ketika itu Bung Tomo ( salah seorang pejuang penting dalam peristiwa heroik 10 Nopember 1945 di Surabaya ) usianya masih relatif muda belum 30 tahun. Yang jadi pertanyaan adalah pernahkan kita menangisi kondisi Indonesia seperti Bung Tomo, menangisi Indonesia yang dipenuhi oleh pemimpin-pemimpin egois, menangisi nasib buruk Indonesia. Sudah lama anak-anak muda Indonesia sangat peduli terhadap kondisi bangsanya, sudah lama anak-anak muda Indonesia bercita-cita membangkitkan bangsanya demi kejayaan Negara, bahkan kemerdekaan ini terwujud atas dorongan semangat anak muda yang salah satu peristiwa monumentalnya adalah meneguhkan Sumpah Pemuda. Sejarah mencatatnya dengan tinta emas ! Lalu mengapa sekarang kita sibuk mempertanyakan seakan-akan bangsa ini kehilangan semangat anak muda, kehilangan generasi yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan nasional, mari kita lihat kembali sebagian kecil catatan sejarah kecemerlangan pemikiran anak muda Indonesia. Bung Hatta pada usia 19 tahun sudah berpikiran jauh ke depan, sekolah ke Belanda, meski belajar di Belanda ia justru semakin mengembangkan pemikiran nasionalismenya. Pada usia 25 tahun bersama Nehru, Bung Hatta diundang berceramah di Konperensi Liga Wanita Internasional Untuk Perdamaian dan Kebebasan di Gland Swiss. Judul Ceramah Bung Hatta ketika itu adalah “Indonesia dan Persoalan Kemerdekaan”. Bung Karno sejak usia muda sudah menyerahkan hidupnya untuk berjuang, membakar semangat rakyat, perjuangan Bung Karno dibidang intelektual juga sangat mengagumkan, bahkan dalam usia 27 tahun Bung Karno sudah menulis buku yang sangat dahsyat dan kini menjadi acuan sejarahwan, “Dibawah Bendera Rovolusi”, yang setebal bantal. Bung Karno, Bung Hatta dan Bung Syahrir adalah tokoh-tokoh muda cemerlang yang dimiliki bangsa Indonesia, Bung Karno menjadi Presiden dalam Usia 44 tahun, Bung Hatta menjabat Wakil Presiden dalam usia 43 tahun dan Bung Syahrir ketika menjabat sebagai Perdana Menteri berumur 36 tahun. Masih banyak tokoh-tokoh muda lainnya yang muncul sebagai pemimpin nasional, karena pada dasarnya sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia adalah sejarah yang diukir oleh anak-anak muda. Lantas siapa yang bertanggung jawab atas munculnya pertanyaan “ mengapa yang kini maju mencalonkan diri sebagai Presiden adalah orang-orang tua dan itu-itu saja ?” Dan usia mereka di atas 50 tahun semua, kemana anak-anak mudanya, mengapa mereka tidak berani muncul. Sebenarnya bukan soal berani dan tidak berani, negeri ini terutama di masa orde baru, sistem memang tidak memihak kepada generasi muda, ukuran anak muda disesuaikan dengan tafsir pemerintah, Sebagai contoh Abdul Gafur ketika diangkat sebagai Ketua KNPI berusia 35 tahun dan dia adalah anggota DPR dari Fraksi ABRI. (sekarang ia dalam usia menjelang 70 tahun masih berburu Jabatan Gubernur Maluku Utara, padahal ia pernah menjabat Menpora 2 periode dan jabatan politik lainnya). Jadi warna Pemuda di masa itu sangat bergantung kepada keinginan penguasa. Selama 32 tahun bangsa ini akhirnya tidak memberikan ruang yang luas bagi kemerdekaan berpikir para anak muda, sehingga mereka frustasi, jika ingin terjun ke politik maka pilihan partainya hanya tiga yakni Golkar, PDI dan PPP. Jika masuk PDI dan PPP dijamin masa depannya dipersulit. Sekarang hampir 10 tahun usia Reformasi, pertanyaan usang itu muncul lagi kemana anak-anak muda itu kok tidak ada yang muncul. Ketua Umum PDI Perjuangan yang juga mantan Presiden RI Ibu Megawati Soekarnoputri malah menantang anak muda, “ Sampai saat ini saya belum dengar yang muda maju. Jadi monggo, anak-anak muda saya tantang “ katanya dalam pidato HUT ke 35 PDIP di Jakarta. Lebih lanjut Bu Mega menekankan, “ Tidak ada salahnya mempunyai mimpi menjadi pemimpin di republik ini”. Ya memang tidak ada salahnya mimpi, tapi mimpi itu sudah menjadi mimpi di siang bolong, kita harus memaklumi para “orang tua” yang sekarang mencalonkan diri menjadi Presiden itu, tentu belum sepenuhnya rela memberikan ruang bagi anak-anak muda. Mereka ketika muda mengalami tekanan dan juga intimidasi oleh rezim represif di masa orde baru. Sebenarnya menilai prestasi anak muda bukan hanya dibidang politik saja, dibidang intelektual mereka juga memiliki prestasi yang mengesankan ada beberapa nama yang perlu mendapat perhatian bangsa ini diantaranya Johny Setiawan Phd yang bekerja sebagai Astronom di Institut Astronomi Max-Planck, Heidelberg Jerman yang telah menemukan planet ekstrasolar, nama Johny tercatat di Jurnal Ilmiah Inggris Nature. Nama-nama lain yang pantas dicatat adalah cendekiawan Yudi Latief, Eep Syaifllah Fatah dan masih banyak lagi. Di bidang Olah Raga ada Juara dunia tinju Christ John, juara dunia bulutangkis Taufik Hidayat, Pembalap remaja Doni Tata dan beberapa nama yang memenangkan medali emas olimpiade fisika tingkat dunia. Kita kaya dengan anak-anak muda berprestasi, termasuk di bidang politik, penulis teringat percakapan dengan Presiden Partai Keadilan Sejahtera Bung Tifatul Sembiring, “ Saya ini adalah yang tertua di PKS “ jelasnya. “ memangnya berapa usia Bung Sembiring ? “ sergah penulis. “ 45 tahun “ jawabnya. Tidak usah resah soal tua dan muda bagi mereka yang berminat memimpin negeri ini, siapapun orangnya baik tua dan muda yang penting bagaimana komitmen mereka terhadap bangsa ini yakni, What can I do for My Country bukannya What can I get from My Country.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5927495290352872281-2961469650089010701?l=theindonesianowarie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://theindonesianowarie.blogspot.com/feeds/2961469650089010701/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5927495290352872281&amp;postID=2961469650089010701' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5927495290352872281/posts/default/2961469650089010701'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5927495290352872281/posts/default/2961469650089010701'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://theindonesianowarie.blogspot.com/2008/01/menyoal-nasionalisme-anak-muda.html' title='Menyoal Nasionalisme Anak Muda'/><author><name>The Indonesia Now</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12954051683754295843</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_qkjNMYedSxE/R2ZEgEyElnI/AAAAAAAAAHg/RHVpfOaj82Q/S220/Slide1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5927495290352872281.post-7380763872643242706</id><published>2008-01-15T16:55:00.000+07:00</published><updated>2008-01-15T16:56:47.355+07:00</updated><title type='text'>SOEHARTO :Misteri Yang Belum Tersentuh</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;D&lt;/span&gt;alam suatu kesempatan penulis bertanya kepada mantan Presiden BJ Habibie, “Apakah Bapak masih berkomunikasi dengan Pak Harto ? “. Profesor Habibie sejenak terdiam dan mengambil nafas dalam, “ Terakhir saya berkomunikasi melalui telepon ketika Pak Harto ulang tahun pada tanggal 8 Juni 1998 ( ulang tahun ke 77 dan 18 hari setelah lengser –Red. ) selain mengucapkan selamat ulang tahun, saya juga ingin bertemu secara langsung “. Tapi Pak Harto menjawab, “ Sebaiknya kita tidak usah bertemu secara fisik, tidak menguntungkan bagi bangsa ini, kita cukup bertemu secara batin saja “ Wajah Profesor Habibie, Presiden ke tiga Republik Indonesia itu nampak sendu mengingat kali terakhir berkomunikasi dengan Guru, Bapak dan mantan Bosnya yang sering disebutnya sebagai Profesor sekaligus Guru Besar Politik . Penulis juga terkejut dengan cerita Pak Habibie itu, sebab pengalaman Penulis sebagai wartawan Istana ketika itu, setiap kali Pak Habinie selaku Menteri Riset dan Teknologi dipanggil Presiden Soeharto, selalu ditempatkan sebagai tamu terakhir. Penempatan sebagai tamu terakhir itu karena pertemuan keduanya berlangsung sangat panjang antara 2 hingga 3 jam, berbeda dengan tamu-tamu lainnya yang paling lama diterima Pak Harto sekitar 30 menit. Untuk itulah para wartawan Istana mewawancarai Pak Habibie sebelum diterima Pak Harto, jadi kebalikan dengan tamu atau menteri lainnya yang diwawancarai setelah diterima Pak Harto. Pak Habibie memaklumi ulah para wartawan tersebut, karena kalau menunggu dia keluar dari ruang kerja Pak Harto, pasti sudah sore dan melewati “dead line” sejumlah media, dan alasan lainnya tentu membosankan menunggu berjam-jam. Dari peristiwa itu sudah dapat kita simpulkan bahwa hubungan antara Pak Harto dengan Pak Habibie sangat dekat bahkan dimasa itu ada sejumlah menteri yang tidak suka atau mungkin cemburu dengan kedekatan Pak Habibie tersebut. Salah satunya adalah seorang menteri yang sering terbata-bata jika bicara di layar televisi, secara terbuka ketika bersantai dengan para wartawan Istana di Press Room dia sering menyindir Pak Habibie, dengan kalimat-kalimat yang melecehkan meski dibungkus dengan canda. Mengingat kedekatan yang luar biasa tersebut bahkan Pak Habibie sempat diangkat sebagai Koordinator Harian Keluarga Besar Golkar, maka wajar kalau penulis bertanya kepada Pak Habibie, sedekat apakah sebenarnya hubungan mereka berdua. Pak Habibie menjawab dengan sangat datar, terkesan ada kekecewaan dalam tarikan nafasnya, “ Ada tiga kategori tentang kedekatan dengan Pak Harto, yang pertama dekat dengan Pak Harto tapi tidak dekat dengan keluarga, yang kedua dekat dengan keluarga tapi tidak dekat dengan Pak Harto, yang ketiga dekat dengan Pak Harto juga dekat dengan keluarga” “ Pak Habibie masuk kategori yang mana ? “ kejar penulis, “ Saya termasuk yang pertama dekat dengan Pak Harto tapi tidak dekat dengan keluarga. Sebenarnya beberapakali saya minta waktu untuk bertemu dengan beliau, tapi mbak Tutut sepertinya tidak pernah mengizinkan, yah saya selalu memanjatkan doa kepada Pak Harto meski dari jauh “ keluh Presiden ke tiga Indonesia itu. Pak Harto memang sosok yang selalu menyimpan misteri, seorang Habibie pun ternyata tidak paham siapa Pak Harto sebenarnya, padahal hubungan mereka berjalan selama 24 tahun dalam Kabinet, bahkan Pak Harto akhirnya memilihnya mendampingi sebagai Wakil Presiden ( secara prosedural politik dipilih oleh MPR ), hingga akhirnya jalan sejarah mengantarkan Habibie menjadi Presiden menggantikan mentor politiknya itu, yang mengundurkan diri karena tekanan rakyat pada 21 Mei 1998. Dalam usia menjelang 87 tahun (lahir 8 Juni 1921 di Desa Kemusuk Yogyakarta), tubuh tua Penguasa Orde Baru dan Jendral Besar Bintang Lima itu digerogoti sejumlah penyakit, kini ia terbaring lunglai di Rumah Sakit Pusat Pertamina, jantungnya lemah tidak mampu memompa darah ke seluruh tubuh, sehingga memerlukan bantuan peralatan medis. Semua media tanah air menempatkan cerita sakitnya dihalaman muka dan menjadi head line, padahal banyak berita lain yang tidak kalah pentingnya bagi rakyat, banjir, penanganan korupsi, kasus sengketa pilkada, penanganan korban bencana alam, akan tapi berita Pak Harto sakit menjadi fokus liputan media. Tokoh-tokoh masyarakat para pejabat hingga Presiden SBY, meluangkan waktu untuk menjenguk Pak Harto, dan entah sengaja atau tidak, usai bezoek mereka memberikan keterangan pers kepada para wartawan, seakan peristiwa sakitnya Pak Harto itu merupakan kebutuhan informasi yang utama yang wajib diketahui masyarakat. Apakah dengan terbukanya informasi bahwa jantung Pak Harto lemah, Urine nya bermasalah, semua masalah bangsa ini selesai. Anehnya para politisi dan tokoh masayarakat itu tidak mengedepankan harapan dan doa agar Pak Harto sembuh, tapi riibut dan berebut ngomong di media agar bangsa ini memaafkan Pak Harto. Padahal Negara telah memperlakukan Pak Harto dengan sangat istimewa, menyediakan tim dokter Kepresidenan, dan semua biaya yang timbul menjadi tanggungan Negara (dibayar dari uang rakyat tentunya), sementara masih banyak rakyat kita yang terpaksa menahan derita karena tidak mampu membayar biaya perawatan rumah sakit. Jadi sebaiknya sebagai sesama manusia kita berdoa saja untuk kesehatan Pak Harto. Soal apakah Pak Harto bersalah, melakukan korupsi, pelanggaran Ham atau tuntutan hukum lainnya, sebaiknya serahkan ke lembaga hukum. Jangan dipolitisir, berikan keteladanan bernegara kepada rakyat. Lepas dari apapun Pak Harto memang masih menjadi sebuah misteri, kita yakin AM Fatwa yang pernah menjalani hukuman penjara politik di masa Pemerintahan Pak Harto, pasti mengalami siksaan baik fisik maupun psikologis, tapi ia tidak dendam bahkan memaafkan dan berdoa untuk bekas musuh politiknya itu. Gus Dur Presiden ke empat RI, yang kenyang dengan intimidasi di masa orde baru, dan dihalangi dalam pemilihan ketua NU, tidak dendam dan memaafkan Penguasa Orde Baru itu. Penulis pernah menyaksikan Gus Dur tidak boleh bicara di Istana, ketika Pengurus NU diterima Pak Harto . Termasuk ketika memberikan keterangan Pers di Press Room Istana, Gus Dur hanya diam. Pak Harto juga masih menyimpan banyak misteri tentang sejarah kebenaran bangsa ini, hingga kini kita tidak tahu dimana disimpan Surat Perintah Sebelas Maret dari Bung Karno yang diberikan kepada Pak Harto, apakah hilang atau dimusnahkan, masih tetap menjadi pertanyaan sejarah. Bagaimanakah cerita sebenarnya tentang G 30 S/PKI, apakah memang PKI adalah pelaku tunggal ataukah ada kekuatan lain yang ikut terlibat dan apakah peristiwa itu merupakan bagian dari kudeta merangkak Pak Harto untuk menggulingkan Bung Karno, semuanya masih gelap. Dan kegelapan itu akan terus dibawa oleh Pak Harto, usia uzur, ingatan yang lemah, tubuh renta dan digerogoti penyakit semakin menyadarkan kita bahwa bangsa ini akan kehilangan bagian dari kebenaran sejarah. Belum lagi tentang kasus hukum Pak Harto, semua hanya berwacana, Tap MPR tidak mampu menyeret Pak Harto apalagi memanggil paksa untuk dihadirkan di ruang persidangan, semua hanaya sekadar politik balsem, meredakan tapi tidak menyembuhkan.(IOT)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5927495290352872281-7380763872643242706?l=theindonesianowarie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://theindonesianowarie.blogspot.com/feeds/7380763872643242706/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5927495290352872281&amp;postID=7380763872643242706' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5927495290352872281/posts/default/7380763872643242706'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5927495290352872281/posts/default/7380763872643242706'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://theindonesianowarie.blogspot.com/2008/01/soeharto-misteri-yang-belum-tersentuh.html' title='SOEHARTO :Misteri Yang Belum Tersentuh'/><author><name>The Indonesia Now</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12954051683754295843</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_qkjNMYedSxE/R2ZEgEyElnI/AAAAAAAAAHg/RHVpfOaj82Q/S220/Slide1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5927495290352872281.post-7415981111698493010</id><published>2008-01-15T16:54:00.000+07:00</published><updated>2008-01-15T16:55:08.209+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-size:180%;color:#000099;"&gt;&lt;strong&gt;CELAKANYA PARPOL ITU ORGANISASI LEGAL&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara ini sudah disandera oleh Partai Politik, kekuatan besar yang dimiliki Partai Politik ternyata tidak dijadikan sebagai kekuatan pro rakyat, tapi hanya untuk kepentingan Parpol dan elit Parpol saja.Pendapat ini bisa jadi hanya sekadar kekesalan yang sifatnya tendensius, namun jika dicermati lebih dalam pendapat tersebut bisa dipahami.Undang-undang Republik Indonesia tentang Partai Politik yang baru saja disahkan DPR (yang seluruh anggotanya adalah representasi Parpol), mencerminkan sikap kekecewaan sejumlah masyarakat.Pada pasal 34 undang-undang Parpol, keuangan Partai Politik diantaranya berhak mendapatkan bantuan dari APBN/APBD yang diberikan secara proporsional kepada Parpol yang mendapatkan kursi di DPR/DPRD. Selain itu Parpol juga bisa mendapatkan sumbangan dari perseorangan baik anggota Parpol maupun bukan dan juga sumbangan dari Perusahaan dan Badan Usaha.Alih-alih memikirkan kepentingan rakyat miskin yang jumlahnya membengkak, dari isi pasal 34 Undang-undang tentang Partai Politik itu sudah sangat jelas, mereka dengan sangat sadar telah membebani APBN/APBD.Alasan bahwa dana itu untuk pendidikan politik kepada rakyat memang sangat mulia, namun pendidikan apakah yang selama ini diajarkan oleh Parpol.Lihat saja perilaku mereka ketika menentukan calon kepala daerah dalam Pilkada di banyak Kabupaten, Kota dan Provinsi. Sudah menjadi rahasia umum hanya calon yang memiliki dana besar yang akan diloloskan sebagai calon kepala daerah, ukurannya sudah sangat jelas mana yang lebih menguntungkan Parpol itulah calon yang didukung.Parpol telah menjadi sebuah lembaga politik super body, mereka bisa mengatur calon kepala daerah bahkan hingga Presiden sekalipun untuk ditawarkan kepada rakyat. Pilihan calon yang terbatas itulah yang sangat menyakiti hati rakyat , karena rakyat dipaksa agar memilih para calon yang disiapkan oleh Parpol.Persoalannya rakyat sudah tidak percaya lagi dengan pilihan Parpol yang sarat dengan indikasi money politic , wajar jika dalam kekecewaan itu rakyat menginginkan adanya calon independen. Dalam implementasinya calon independen masih mengalamai hambatan, meskipun Mahkamah Konstitusi telah mengeluarkan putusannya.Sekarang Parpol kembali menggerogoti hak rakyat melalui dana APBN/APBD, dan dapat dipastikan eksekutif tidak berdaya untuk menolaknya, karena tekanan politik yang dihadapinya sangat kuat.Selain itu eksekutif juga ingin aman dan tidak direcoki oleh Parpol sehingga ia juga dapat melenggang dengan leluasa sebagai penguasa.Perselingkuhan politik antara Parpol dengan Eksekutif menjadikan Negara ini sulit melepaskan diri dari belitan krisis yang sampai kini masih terasa dampaknya.Parpol yang kita harapkan dapat membangun pemerintahan yang bersih dan pro rakyat, kini telah menjauh dari cita-citanya sebagai sebuah organisasi politik.Celakanya kita sulit melepaskan diri dari ketergantungan dengan Partai Politik, karena mereka dijamin oleh konstitusi, kita tidak bebas memilih pemimpin kita.Meskipun pemilihan langsung tapi Parpol yang menentukan orangnya, kita memang harus tunduk karena perintah konstitusi.Dalam UUD 1945 Bab III Pasal 6 A ayat 2 dikatakan Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden diusulkan oleh Partai Politik/Gabungan Partai Politik peserta Pemilihan Umum sebelum Pelaksanaan Pemilihan Umum.Sedangkan pada Bab VII B Pasal 22 E disebutkan Peserta Pemilihan Umum Untuk Memilih anggota DPR/DPRD adalah Partai Politik.Sebagai warga Negara yang baik kita (terpaksa) sewajarnya menghormati konstitusi kita.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5927495290352872281-7415981111698493010?l=theindonesianowarie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://theindonesianowarie.blogspot.com/feeds/7415981111698493010/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5927495290352872281&amp;postID=7415981111698493010' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5927495290352872281/posts/default/7415981111698493010'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5927495290352872281/posts/default/7415981111698493010'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://theindonesianowarie.blogspot.com/2008/01/celakanya-parpol-itu-organisasi-legal.html' title=''/><author><name>The Indonesia Now</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12954051683754295843</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_qkjNMYedSxE/R2ZEgEyElnI/AAAAAAAAAHg/RHVpfOaj82Q/S220/Slide1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
