
Hampir semua orang pernah merasakan frustrasi, frustrasi berasal dari bahasa latin frustratio yang artinya adalah perasaan kecewa atau jengkel akibat terhalang dalam pencapaian tujuan. Semakin penting tujuannya semakin besar frustrasi dirasakan .
Kata orang bijak : “hidup tidak seluruhnya berjalan sesuai dengan rencana kita” , namun celakanya frustrasi selalu datang belakangan.
Karena datangnya belakangan itulah, maka frustrasi seringkali mengendap dalam hati, melukai jiwa dan mengharu biru perasaan. Rasa frustrasi bisa menjurus ke stress, sehingga ada yang berakhir dengan tragis sampai bunuh diri.
Banyak penyebab yang melahirkan frustrasi, faktornya bisa internal maupun eksternal misalnya patah hati, tidak kunjung dapat jodoh, dikhianati, tidak punya uang, jalanan rusak, macet, banjir dan masih banyak hal lainnya.
Ibukota Jakarta adalah kota sumber frustrasi, sehingga muncul istilah “sekejam-kejamnya ibu tiri masih lebih kejam ibukota”. Lalu lintas kota Jakarta termasuk salah satu paling parah di dunia, jalanan macet terutama di jam sibuk saat berangkat kerja dan pulang kerja, adalah menu frustrasi sehari-hari bagi warga DKI Jakarta dan sekitarnya.
Hidup di Jakarta harus pandai berakrobat dan memiliki saraf baja, kalau tidak siap-siap saja frustrasi, apalagi saat sekarang harga-harga naik termasuk sembako, tentu membuat kehidupan semakin sulit.
Ditengah kegalauan dan terjebak di lorong gelap kehidupan terkadang kita berharap ada cahaya sebagai penerang entah sekadar dari sepotong lilin, untuk memandu jalan kehidupan yang semakin berat ini.
Cahaya itu seringkali dinyalakan melalui api janji dari para politisi dan birokrat yang berebut menjadi pemimpin, mereka mengumbar kampanye bahwa jika memilihnya sebagai pemimpin maka masa depan lebih pasti.
Janji-janji yang disokong rombongan Partai Politik itu seperti gelombang tsunami, memporak-pandakan akal sehat, melambungkan jiwa-jiwa yang dahaga hingga ke langit impian. “Serahkan pada ahlinya, jangan sembarang memilih pemimpin yang belum teruji !”.
Kini ketika sang ahli terpilih menjadi pemimpin, Jakarta masih macet, masih banjir, angka kriminalitas makin meningkat, penggusuran pedagang kecil masih berlangsung, akhirnya pengangguran tambah banyak, dan kita semakin frustrasi.
18 Februari 2008
FRUSTRASI
Diposting oleh
The Indonesia Now
di
17.16
0
komentar
22 Januari 2008
CERITA TENTANG
MANUSIA INDONESIA
Seorang ayah merasa terganggu, karena anak lelakinya tidak henti menggelayuti pundaknya, padahal sang ayah sedang serius menyelesaikan pekerjaan di komputer. Untuk mengalihkan perhatian sang ayah merobek-robek peta Indonesia untuk dijadikan puzzle, lalu sang anak diperintahnya untuk menyusun kembali peta itu. Secara cepat sang anak ternyata mampu menyusun peta Indonesia yang robek itu. Sang ayah terkesima, lalu bertanya :
“Dari mana kamu belajar peta Indonesia ?”.
“Saya tidak pernah belajar Ayah “ jawab sang anak.
“Tapi kok begitu cepat menyusun peta ini ? “ kejar sang ayah penasaran.
“Dibalik peta ini ada gambar manusia, jadi gampang saja menyusunnya”
“Dari mana kamu belajar peta Indonesia ?”.
“Saya tidak pernah belajar Ayah “ jawab sang anak.
“Tapi kok begitu cepat menyusun peta ini ? “ kejar sang ayah penasaran.
“Dibalik peta ini ada gambar manusia, jadi gampang saja menyusunnya”

Cerita tersebut saya kutip dari seorang rohaniwan, lalu dia melanjutkan bahwa inti dari cerita itu adalah jika kita ingin mempersatukan Indonesia mulailah dengan membangun manusianya.
Saya tercenung.Lalu ingatan saya mengembara ke masa lalu saat saya bicara santai dengan sobat saya almarhum Luther Kalasuat (Jurnalis senior asal Papua). Tiba-tiba saja Luther bertanya hal yang sulit .
Saya tercenung.Lalu ingatan saya mengembara ke masa lalu saat saya bicara santai dengan sobat saya almarhum Luther Kalasuat (Jurnalis senior asal Papua). Tiba-tiba saja Luther bertanya hal yang sulit .
Saya terdiam dan jujur saja tidak berani menjawab.
“ Oke saya tidak marah kok, apa yang kamu pikirkan juga banyak dipikirkan oleh orang-orang lain termasuk pejabatnya. Yang ada diotak mereka soal Papua adalah kekayaan hutannya, kekayaan tambangnya pokoknya kekayaan alamnya, hampir tidak pernah terlintas soal manusia Papuanya “. Ujar Luther dengan santai tanpa beban.
“ Oke saya tidak marah kok, apa yang kamu pikirkan juga banyak dipikirkan oleh orang-orang lain termasuk pejabatnya. Yang ada diotak mereka soal Papua adalah kekayaan hutannya, kekayaan tambangnya pokoknya kekayaan alamnya, hampir tidak pernah terlintas soal manusia Papuanya “. Ujar Luther dengan santai tanpa beban.
Ya almarhum Luther benar, kita jarang memikirkan manusianya yang terpikirkan adalah bagaimana mengeksploitasi kekayaan alamnya, jadi jangan heran jika suku Amungwe yang berada di lokasi Freepot, masih terpuruk hidupnya. Penguasa hanya memikirkan emas di perut bumi Papua. Tidak memikirkan perut orang Papua.Saya hanya bisa merenung saja dalam diam, sering kita dengarkan jargon di masa lalu “membangun manusia Indonesia seutuhnya”, tapi itu semua hanya berhenti di jargon saja. Sampai saat ini kita belum utuh, kita memerlukan keteladanan dari pemimpin kita. Dan jangan pernah berhenti berharap, sebab pemimpin kita juga manusia ……………….
Selengkapnya...
Diposting oleh
The Indonesia Now
di
12.49
0
komentar
Langganan:
Postingan (Atom)
